Tak kusangka aku harus menulis tulisan ini, tulisan akan sebuah kegalauan, kesedihan, dan segala rasa akan kekhilafan sebuah jiwa.
Terbangun dari sebuah mimpi yang panjang akan tinta dan titah sebuah manuskrip perjalanan waktu, desiran ombak melantunkan rahasia dibalik gemulainya air laut, gerakan angin mengimpovisasi irama diantara dedaunan dan petir yang meluluh lantahkan keindahan . Baru kusadari, bahwa diri ini adalah seorang manusia, senang akan lumuran-lumuran dosa, senang akan sebuah kemunafikan dan senang akan ilusi fatamorgana dunia.
Terbangun dari sebuah mimpi yang panjang akan tinta dan titah sebuah manuskrip perjalanan waktu, desiran ombak melantunkan rahasia dibalik gemulainya air laut, gerakan angin mengimpovisasi irama diantara dedaunan dan petir yang meluluh lantahkan keindahan . Baru kusadari, bahwa diri ini adalah seorang manusia, senang akan lumuran-lumuran dosa, senang akan sebuah kemunafikan dan senang akan ilusi fatamorgana dunia.
Tak pernah aku menyadari akan sebuah tuntunan kepastian imajinasi akal ini, yang telah menghancurkan sebuah kecerahan hati. Hitam pekat, sebuah warna kehancuran dari rona-rona kutipan-kutipan kehidupan, seakan melambangkan kesesatan tak berujung.
Saat itu, ketika vokalisasi komitmen telah terucap, hampanya waktu seakan mudah terlewati. sungguh sang pemilik alam semesta tak hanya mendengarnya bahkan Ia mengujinya. Tak pernah ku bayangkan, ketika ku pangku komitmen itu, berat bebannya mulai terasa seiring langkah kaki dan berjalannya waktu.
Banyak yang ku alami dari perjalanan memangku komitmen ini dan tak kusangka kebaikanNYA mengantarkanku pada perjalanan yang penuh dengan kasih sayang yang tak terhingga. Rintangan demi rintangan begitu mudah hilang dengan sendirinya, inilah kasih sayang, sebuah curahan indah bagi jiwa pelumur dosa yang tak tahu diri, hadiah kecintaan sang penyayang yaitu Allah SWT
Tibalah waktu itu. Entah mengapa ku harus seperti ini, beribu jawaban telah hadir dalam pikiran ini, beribu penyanggah telah melunturkan semua jawaban itu. Serasa ku tak bisa berbuat apa-apa, semakin ku memohon padaNYA semakin besar kepastian-kepastian yang aku inginkan, hanya satu yang dapat aku ucapkan "mungkin Allah ingin menolongku dari sampah zina yang mulai menggangu disekitar perjalannku", kasih sayangNya ini semakin lama semakin besar, begitu pula saat seretan sampah-sampah itu mulai menyeretku pada kebusukan. Tiba-tiba kuingat komitmen yang ku pangku, tak mungkin aku menghentikan seretan sampah itu. Meskipun kutahu, bahwa kasih sayang yang Ia berikan merupakan solusi permasalahan ini
Kenapa ?
Karena komitmen yang kupangku lebih besar bebannya ketika ku harus merealisasikan kasih sayang yang Ia berikan.
Panjatan do'a, lantunan dzikir dan tangisan kegelisan hati ini, telahku pasrahkan diantara sujud-sujud sholatku padaNya. Sungguh tak kumengerti, kasih sayang yang ia berikan padaku semakin bertambah. Akhirnya, diantara pangkuan sebuah komitmen besar itu, ku utarakan sebuah kepastian terdalam atas kasih sayang yang ia berikan padaku, sebagai tanda rasa cinta terdalamku padaMU ya rabb. Kutunggu kepastian diantara kegalauanku, kutunggu ketenangan diantara kesedihanku dan kutunggu keringanan beban ini diantara kekhilafan diriku yang terlumuri oleh dosa-dosa.
Astaghfirullahaladzim...
Astaghfirullahaladzim...
Astaghfirullahaladzim...
Sungguh hinanya diri yang selalu terlumuri oleh dosa ini, menanti sebuah kepastian yang mungkin tercipta dari mimpi-mimpi di siang bolong istirahatku. Demi Allah, sungguh sakit hati ini ketika label faqih dan unggul menerpa diri, andaikan itu sebuah do'a semoga Allah memberikan kefaqihan dan keunggulan sebagai nikmat yang ia berikan, maka ku katakan semoga Allah mengabulkannya. Tapi, sekali lagi aku tak ingin label itu datang menghardikku tiba-tiba, demi Allah aku muak dan benci dengan perkataan itu. Maafkan aku atas ucapan ini, ucapan dari manusia penuh salah dan dosa.
Ya Allah jika aku bisa memohon agar engkau menyudahi umurku saat ini, agar aku tak merasakan kegalauan, kesedihan dan kekhilafan. Maka sungguh aku memohon sudahi umurku saat ini juga dalam keadaan fi sabilillah.
Dikemas dengan sastra dari sebuah cerita nyata yang sampai kepada penulis.
*Bahrul Ulum

Tidak ada komentar:
Posting Komentar